latex

Selasa, 15 November 2016

Hari Ini Ulang Tahunku yang ke-19 (10 November 2016)

Catatan ini kutulis sebagai pengingat untuk diriku di masa yang akan datang, dan mungkin juga untuk anak cucuku kelak. Wah wah pasangan aja belum ada udah ngomong anak cucu aja nih hehehe 


Karena setiap orang memiliki kesibukannya masing-masing.  Adakalanya kesibukan-kesibukan itu membuat dirinya melupakan akan sesuatu yang pasti terjadi. Apa itu? That is death, yaitu kematian. Namun dengan alasan apapun, seharusnya hal ini janganlah sekalipun untuk dilupakan. Ini adalah point penting untuk bisa menjadi orang sukses.
Hari ini genaplah umurku 19 tahun. Begitu banyak perjalanan, dan perjuangan yang telah ku lalui. Namun belum semuanya berhasil. Dan masih paaaaaaaaaanjang perjalananku yang harus ku tempuh. Masih banyak target-target yang harus ku kejar.  Aku menyadari banyak sekali cacat selama dalam perjalanan. Namun aku tak mau terjebak dalam kegagalan karena kecacatan-kecacatan itu. Aku ingin terus menambal cacat-cacatku hingga semuanya baik, sampai hari dimana mata ini terpejam untuk selama-lamanya, saat diri dipanggil untuk menghadap-Nya.
Bukanlah masalah sob saat hari lahirmu tiba banyak orang yang tidak tahu atau melupakan. Karena hari ulang tahun itu memang bukan untuk diingat orang lain. Hari ulang tahun merupakan sebuah penanda. Penanda bahwa umur kita sudah berkurang 1 tahun.
Untuk tahun ini, terimakasih atas doa-doanya yang telah diberikan untuk kakak-kakakku, sahabat-sahabatku, serta khususnya seseorang yang berinisial NR yang sebenarnya sesuatu. Untuk NR, 8 huruf 3 kata 1 arti dariku untukmu. Apakah itu? suatu hari nanti pasti tau kok hhehe.
Akhir kata, saya selaku admin di blog ini mohon maaf apabila ada salah-salah kata, atau mungkin ada sesuatu yang kurang berkenan berkaitan dengan apa yang telah admin bagikan disini.
Sampai jumpa di lain waktu sob! Wassalamu’alaikum...

Minggu, 11 September 2016

Gema Takbir di Asrama Sederhana

Selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H kawan!

Gema Takbir di Asrama Sederhana Idul Adha 1437 Hijriyah

Muhammad Syarif Hidayatullah, bukan seorang pujangga. Hanyalah seorang manusia biasa yang ingin belajar hal baru. Aku tak pandai membuat puisi. Hanya puisi biasa, dengan kata-kata sederhana yang mampu ku rangkai.

Gema Takbir
(loading....)

Sabtu, 10 September 2016

Hembusan Angin Malam Ini

Muhammad Syarif Hidayatullah, bukan seorang pujangga. Hanyalah seorang manusia biasa yang ingin belajar hal baru. Aku tak pandai membuat puisi. Hanya puisi biasa, dengan kata-kata sederhana yang mampu ku rangkai
.
Hembusan Angin Malam Ini

Aliran udara berhembus ke arahku
Pikiran yang mulai bingung..
Dilema datang seakan mengurungku
Aku tak tahu..
Mana satu yang terbaik
Kendaraan surga?
Atau kehidupan ini
Mungkinkah ia yang menginginkan diriku?

Hembusan angin malam ini..
Aliranmu selalu sama
Engkau begitu setia menemaniku
Sepi sendiri..
Setelah dua karibku
Berada di tanah kelahirannya
Oh kawan
Do'aku selalu menyertaimu..

Hembusan angin malam ini..
Mengingatkanku akan sesuatu
Gadis manis
Begitu elok budimu..
Sorot mata yang berkilau
Tak sebanding kilaunya berlian
Bibir tipis yang begitu manis
Aku tertarik begitu melihatnya
Wajahnya..
Tak mampu lagi untuk ku lukiskan..
Suaranya.. menyejukkan hati ini
Wahai gadis manis
Sungguh...
Aku jatuh cinta padamu        
Andaikan saja engkau tahu..

Hembusan angin malam ini..
Menjadi saksi sepiku
Yang sendiri dalam ruang..
Namun..
Yakinku tak pernah berubah..
Penciptaku kamu dan kita semua..
Allah Azza wa Jalla
Tak pernah meninggalkan hambanya..

Hembusan angin malam ini..
Mengajarkanku akan sesuatu

Rabu, 31 Agustus 2016

MyWapBlog Eight Anniversary Contest 2016 : Misteri Buaya di Sungai

Judul              : Misteri Buaya di Sungai
Dibuat pada  : 31 Agustus 2016
Oleh               : Muhammad Syarif Hidayatullah

    Saat matahari terbit, di sebuah sungai nan keruh, ada seorang anak laki-laki yang berpenampilan serba hitam. Celananya panjang selutut, kaosnya lengan pendek dan banyak lubang sebesar kelereng di bagian dada. Sebut saja ia Budiman. Dengan bertelanjang kaki, Budiman berjalan di tepian sungai. Tangan kanannya memegangi ember yang berisi cacing hidup. Tangan kirinya memegangi pancing panjang yang terbuat dari bambu berdiameter kecil yang disandarkan pada bahunya, seolah nampak seperti tentara yang membawa senjata. Tiba-tiba.... “Jeggguuuuuurrrrr!!!”, Budiman terjatuh ke sungai, kakinya yang juga hitam itu tak sengaja menginjak kulit semangka. Untungnya, sungai itu hanya sedalam dadanya. Alhasil, ember yang dibawa Budiman terlempar ke atas. Anehnya Budiman malah tersenyum. Oh rupanya kawan.. Budiman terfokus pada seorang gadis yang sedang memakan buah semangka di tepian sungai itu. Disela-sela senyum Budiman, tanpa disadari ember yang terlempar ke atas itu perlahan-lahan jatuh dan sialnya tepat di kepala Budiman.

“Plekkkk!”, suara ember yang terjatuh. Budiman pun mulai tersadar dari fokusnya tetapi masih merasa bingung.

“Astaga, siapa yang mematikan lampu di sungai pagi-pagi begini? Dan ah... kok dingin sekali ya...”

 Budiman yang masih merasa bingung terdiam beberapa saat di sungai itu.

     Tak lama kemudian seorang prajurit yang entah darimana datangnya, tak sengaja lewat di tepian sungai. Ia mengamati keadaan sungai, dan menyadari ada keganjilan disana. Bukan soal Budiman, namun sesuatu yang biasanya tidak ada. Seekor reptil yang sedang berenang. Terlihat jelas ekornya yang panjang meruncing berenang meliuk-liuk, serta mulutnya berbentuk moncong panjang. Ia berenang mengikuti arus (ke arah Budiman berada).

“Hewan apakah itu?”, tanyanya dalam hati.

“Apa mungkin itu katak? Ah tidak, katak tidak sepanjang itu. Mungkin itu sejenis umbi-umbian. Ya umbi-umbian. Eh.. bukankah umbi-umbian tidak hidup di sungai? Lantas itu apa?”.  

“Itu buaya pak!!!”, teriak Budiman dari kejauhan. Dia nampak masih di dalam sungai, dengan ember yang sudah ia lepaskan.

“Ooooow buaya...”, jawab tentara dengan nada senang, karena pertanyaannya sudah terpecahkan. Tapi tiba-tiba saja ia kaget, “Haaaaaa.. kalau kamu tahu itu buaya terus kamu kenapa masih berendam di sungai nak! Cepat naik! nanti kamu bisa dimakan lho..”.

“Oh iya pak! Ini juga mau naik kok”, dengan nada santai.

Sialnya, saat hendak melangkah ke atas. Kaki Budiman yang tadinya lincah kini tiba-tiba tidak bisa bergerak.

“Aduhhh! Kenapa dengan kakiku? Kok tiba-tiba tidak bisa aku gerakkan.”

“Ayo naakkk cepetan naik! Buaya sudah semakin dekat!”, seru sang tentara.

“I.. i.. iya pak! Ta.. tapi...”

“Tapi kenapa??”

“Anu pakk..”

“Anu kenapa? Jangan buat saya jadi pingsan.”

“Dua kaki saya....”

“Iya.. kakimu memang dua, bapak juga tahu. Yang penting kamu cepetan naik ke atas!”

“Tidak bisa digerakkan pak dua kaki saya!”

“Apa????”, seketika tentara yang gagah perkasa tersebut pingsan. Namun beruntung, ia tidak sampai tercebur ke sungai.

Melihat tentara pingsan, Budiman hanya bisa pasrah. Mungkin ini takdir yang harus dijalaninya. Buaya yang nampak ganas itu kian mendekat. Karena tak tahan, Budiman lantas menjerit sekeras-sekerasnya. “Aaaaaaaaaaaaaaarrrrgghh!!!”.

    Gadis yang tak jauh dari Budiman itu pun bergegas menghampiri Budiman. “Mas, kenapa kok teriak-teriak?”, dengan lembut gadis manis berlesung pipit itu bertanya. Budiman yang tadinya berwajah histeris, kini berubah bermuka manis setelah kehadiran gadis itu. Namun rasa ketakutannya masih tidak bisa ia sembunyikan. Budiman pun menjelaskan sejelas-jelasnya alasan ia teriak kepada gadis tersebut. Dan....

“Hahahah, jadi itu sebabnya mas teriak?”, tawa si gadis.

“Iya, hem sepertinya kamu bahagia ya? gak punya perasaan.”, jawab Budiman sedih.

Selang beberapa detik, mulut buaya itu menyentuh kulit tubuh Budiman. Budiman histeris, namun sang gadis yang menyaksikan itu malah riang gembira. Apa yang terjadi?

“Bagaimana mas rasanya?”, dengan sedikit senyum gadis bertanya.

“Aneh, kok saya gak digigit?”,

“Ya jelas dong! Coba geh mas pegang”,

“Iya, loh kenapa ini teksturnya empuk, halus, tidak seperti kulit buaya, atau jangan-jangan ini sejenis umbi-umbian yang menyamar menjadi buaya???"

"Duh mas ini, mana mungkin ada yang seperti itu?"

"Atau mungkin?"

"Mungkin apa mas?",

"Mungkin ini seekor buaya yang menyamar menjadi umbi-umbian!",

"Ya ampun mas, ngawur aja mas ini, ini itu roti khas betawi. Namanya roti buaya!",

"Roti buaya, tapi aneh, siapa yang bikin? dan buat apa roti buaya ini ada di sungai?”, tanya Budiman. Sang gadis yang agak jengkel karena pemikiran Budiman yang gak jelas itu menjawab, “Itu aku yang bikin mas, coba deh lihat bagian atas roti itu. Disitu ada tulisannya.”

Budiman pun menuruti apa kata sang gadis dan mulai membaca, “Oh iya ada tulisannya, ‘Happy Anniversary 8th MyWapBlog.com!’. Ya Tuhan! Aku baru tahu kalau MyWapBlog sedang ulang tahun, walah belum ngucapin lagi”.

“Ya sudah mas gak usah panik, sekarang mas naik dulu, sini aku bantu naikin”, sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya. Budiman pun sangat senang sekali, ketika hendak memegang tangan gadis itu tiba-tiba dari kejauhan ada suara teriakan, “Jangan nak! Biar bapak saja yang bantu naikin mas ini!”, ternyata tentara yang pingsan tadi sudah terbangun. “Nanti tangan lembutmu bisa amis karena tersentuh tangan mas itu.”, sambungnya. “Oh iya benar kata bapak tentara itu.”, kata Budiman kepada gadis yang padahal berharap bisa menyentuh tangan si gadis.

Setelah naik, mereka bertiga bercakap-cakap soal kejadian tadi.

“Oooh.. jadi itu roti buaya yang dibuat khusus untuk perayaan hari jadi MyWapBlog yang ke delapan.”, kata tentara.

“Iya pak benar, ngomong-ngomong apa bapak tahu tentang MyWapBlog?”, tanya sang gadis.

“Tentu saja, siapa yang tidak tahu MyWapBlog? Situs penyedia Blog yang sangat friendly, mudah digunakan di berbagai perangkat. Bahkan di ponsel sekelas java pun lancar jaya.”, jawab tentara.

“Jangan lupa pak, para penggunanya pun ramah tamah, suka berbagi banyak hal, tidak sombong, pandai-pandai, dan rajin menabung.. eh”, sahut gadis.

Tiba-tiba saja Budiman yang diam berdiri menghadap ke arah sungai dan berteriak,

“Selamat ulang tahuuuun EM.. WE.. BE.. yaaang keee delapaaan!”,

 Sang gadis yang tercengang, lalu ikut-ikutan juga,

“Happy Anniversary yang ke delapan, kebanggaankuuuu, MyWapBlog! Terimakasih Mister Arvind. Terimakasih semuanyaaaa!”,

Dan terakhir, bapak tentara. Dia masih diam, masih diam. Setelah Budiman dan gadis duduk, bapak tentara tiba-tiba berdiri ke arah sungai.

“Terimakasih banyaaaaak MyWapblog atas dedikasimuuu! Akan selalu ada ruang untukmu di hati kami, rakyat Indonesiaaa, pemuda Indonesiaaa!”,

Setelah kejadian ini, mereka bertiga menjadi teman yang akrab. Dan bagi mereka, ini merupakan sebuah pengalaman yang tidak akan mungkin bisa untuk dilupakan.


      Dan usailah sudah kawan cerita singkat, “Misteri Buaya di Sungai yang tenyata bukan buaya asli. Hanya sepotong roti buaya, namun itu dapat membuat Budiman, Bapak tentara, dan seorang gadis menjadi teman yang akrab. Karena kecintaan yang sama, rasa yang sama, akan satu hal. Apa itu? Tentu saja “MYWAPBLOG”. Begitu pula dengan kita semua  sobat. Admin secara pribadi mengucapkan ribuan terima kasih kepada kawan-kawan, para sahabat, umumnya para pengguna MyWaBlog, serta khususnya para master yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu dan terutama kepada sang pendiri MyWapBlog. Karena kalian semua, saya ada disini dan bisa berkarya membangun MyWapBlog tercinta. Dan terimakasih sahabat semua yang telah berkunjung di gubuk saya yang sederhana ini! :)

Senin, 20 Juni 2016

Perjalananku Menuju Kampus Hijau

unila.jpg

Assalamualaikum sobat pengunjung M Syarif Hidayatullah Blog! :)
Sebelumnya Admin ingin mengucapkan Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan sob bagi yang menjalankan. Wah, rasanya sudah lama sekali nih admin tidak membuka blog ini, sampai-sampai saat ini jadi lupa bagaimana cara bikin postingan wkwkwk :D. Yah, kesibukan demi kesibukan kayaknya tengah menggrogoti kehidupan admin saat ini. Meskipun dalam dunia kampus admin tidak memiliki banyak kegiatan ekskul yang diikuti, namun kegiatan dalam kampus ternyata banyak menyita waktu juga sob :).
Hem.. sebenarnya bingung nih mau nulis apaan, tapi iseng-isenglah sob daripada bingung gak ngapa-ngapain mending admin cerita aja tentang Perjalananku Menuju Kampus Hijau.

Seperti yang kita tahu, tingkatan tertinggi dari seorang penuntut ilmu umum adalah Mahasiswa. Sebutan untuk setiap manusia yang sedang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi. Admin sendiri Alhamdulillah sekarang masih menjadi mahasiswa aktif Semester 2, Jurusan Fisika Murni di Universitas Lampung.

Mungkin di antara kita pernah atau bahkan sering malah mendengar ucapan orang-orang yang katanya, "Kuliah itu khusus untuk orang-orang kaya, orang yang gak punya ya gak usah neko-neko". Mungkin kurang lebih begitulah pandangan banyak orang tentang kuliah. Saya pun juga pernah merasakan sob. Mengenang masa ketika mau kuliah, membuatku ingin meneteskan air mata. Jujur saja sob saya sudah hampir menyerah di awal-awal, kalau tidak karena semangat dari kawan-kawan dan dorongan dari mbak (sebutan bagi kakak perempuan) saya mungkin tidak akan sejauh ini. Bicara tentang kuliah, awalnya sih gak ada niatan, hanya karena kawan-kawan waktu di jurusan IPA dulu yang hampir semuanya ingin kuliah, sehingga saya mulai tertarik. Terutama dua orang sahabat dekat saya yang begitu luar biasa antusiasnya, sehingga saya pikir saya juga harus bisa seperti mereka. Karena saya tidak mau kalah dari mereka. Ditambah motivasi dari para dewan guru yang menambah keinginan saya menjadi kuat untuk dapat lanjut kuliah. Dan mereka telah menjadi pendorong utama saya untuk bisa maju.

Masa yang selamanya tak bisa terlupakan nih sob, saat pengumuman biaya kuliah (Sistem UKT). Disaat biaya kuliah teman-teman seperjuangan saya kisaran 3 juta/smt. Saya berbeda sendiri yaitu 7,95 juta/smt. Subhanallah! membaca pengumuman itu saya benar-benar tidak mampu berkata-kata lagi sob, hati ini hanya mampu pasrah dan rasanya semua angan-angan dan bayangan hilanglah sudah. Biaya yang sangat sangat sangat sangat mahal sekali (banyak sekali sangatnya hehe). Sangat tidak sesuai dengan penghasilan kedua orangtuaku yang ada di kisaran 500 ribu rupiah per bulan. Kala itu saya tidak berani bilang sama orangtua. Namun karena keterpaksaan mau tidak mau saya pun tetap harus mengutarakan perihal ini. Ketika saya mengutarakan ini, ya jawaban dari kedua orangtua saya sudah dapat ditebak. Mereka menyuruh saya untuk tidak melanjutkan alias mundur dengan nada yang sedih. Saat itu saya sudah putus asa dan sudah hampir mundur dari perkuliahan meskipun masih ada banding UKT yang bisa menurunkan biaya itu. Saya bilang ke kawan-kawan seperjuangan tentang keputusan ini. Ternyata mereka tidak menerimanya dan tetap ingin saya berjuang dengan mengikuti proses banding nantinya. Saya menjadi termotivasi, dan mengiyakan apa kata kawan-kawan. Dan artinya saya harus kembali berbicara kepada kedua orangtua saya agar mau banding. Kala itu begitu berat untuk meyakinkan apalagi mendatangkan orangtua ke kampus, karena waktu untuk banding maksimal 3 hari setelah pengumuman dan wajib membawa orangtua atau wali. Belum lagi ditambah menyiapkan berkas-berkas sebagai bukti pemerkuat alasan saya untuk banding yang itu sangat banyak dan melelahkan. Saat itu saya tidak berani bilang ke orangtua langsung, melainkan saya curhat ke kakak perempuan saya dulu dan biar kakak saya yang bilang ke orangtua. Setelah kakak saya bilang, saya baru berani berbicara. Dan dengan memohon sangat saya meminta kepada keduanya untuk mau mengikuti kemauan saya sekali saja, dan jika hasilnya nanti masih belum sesuai dengan keadaan ekonomi keluarga barulah kemudian saya mundur. Alhamdulillah mereka akhirnya mau, dan perjuanganku tentu belum berhenti sampai disini, karena saya masih harus mengumpulkan berkas-berkas sebagai pemerkuat banding. Kala itu saya berangkat banding bersama bapak saya ke kampus hijau dengan mengendarai sepeda motor dan itu di hari jum'at yaitu hari ketiga (hari terakhir) setelah pengumuman. Di hari itu jugalah pertama kalinya saya shalat di Masjid Al-Wasi'i dalam rangka shalat jum'at. Momen yang tidak bisa dilupakan, beserta rasa bingung yang melanda ibarat berada di malam yang gelap gulita. Maklum sob karena baru pertama kalinya, dan menghadapi masalah seperti ini hehe. Singkat cerita, banding selesai. Dan setelah banding biaya yang semula 7,95 juta/semester turun menjadi 3,5 juta/semester. Namun tetap saja itu masih belum terjangkau oleh ekonomi keluarga kami yang kesehariannya hanya hidup pas-pasan. Oleh karena itu saya harus menepati janji saya kepada orangtua untuk mundur sampai disini dengan alasan tidak mampu. Saya pun mengutarakan ini kepada kakak perempuan saya, dan kelihatannya beliau merasa sedih kalau hanya alasan biaya saya mundur. Beliau ingin saya tetap kuliah meskipun itu hanya beberapa semester dan untuk masalah biaya biar beliau yang akan menanggung, jawabnya. Beliau lalu membujuk bapak dan ibu untuk jangan mundur dulu, urusan biaya bisa diusahakan katanya. Karena itu kemudian ibu dan bapakku akhirnya setuju dengan pemikiran kakak perempuan saya ini. Dan konsekuensinya, kami harus terseok-seok di awal, biaya kuliah semester pertama dibayar dengan mencari hutangan kepada tetangga. Di masa-masa seperti inilah ibuku masih saja yakin bahwa saya suatu saat bisa mendapatkan beasiswa dan terus mendo'akan yang terbaik untuk saya. Mungkin karena do'a ibu juga Alhamdulillah saat ini saya mendapatkan bantuan biaya pendidikan dari Pemerintah yaitu lewat Program Bidikmisi yang itu saya dapatkan melalui jalan yang mungkin tidak pernah disangka-sangka oleh kebanyakan orang :). Biaya yang semula 3,5 juta rupiah per semester itu menjadi turun hingga 0 rupiah (gratis) dan diberi uang saku juga tiap semesternya.  Dan disini saya mulai menyadari akan pentingnya do'a seorang ibu bagi kita, makanya "Sayangilah ibumu sob!". Untuk masalah beasiswa, ternyata banyak kok sob beasiswa-beasiswa di kampus. Selain bidikmisi masih ada lagi seperti dari Djarum, PMPAP, PPA, BBM, BPN, dan lain-lain yang jika kita mau berusaha Insya Allah pasti kita bisa menggapainya. So, jangan takut kuliah sob! Masalah biaya bisa kita usahakan.

Dan intinya sob, kuliah itu bukan untuk orang-orang kaya saja, kita yang hidup pas-pasan juga benar-benar bisa asalkan mau berjuang dan selalu meminta kepada Yang Maha Kuasa. Oke sob, mungkin ini dulu postingan saya kali ini. Sedikit tentang kisah Perjalananku Menuju Kampus Hijau. Terimakasih telah membaca, selamat puasa, dan semoga menginspirasi. Wassalamualaikum wr.wb :)

Senin, 07 Maret 2016

Logo Hadroh Assalafy Lampung selatan

Kali ini saya ingin membagikan logo grup jadroh assalafy. Ini request by teman saya bernama budi triono.

logo-assalafy.png

Sabtu, 06 Februari 2016

The First Struggle For Lecture at Green Campuss Unila

Assalamualaikum friends! In this morning that is clear, i want to tell about my experiences when i am just came at Green Campuss other wise called Unila (University of Lampung).